Apa Yang Dilakukan Gadis Kecil Ini Membuat Banyak Mahasiswa Merasa Malu

Posted on

Photo copyright Shanghaiist.com

Semakin
dewasa, semakin kita mengerti akan tanggung jawab dan kebenaran, tapi
malah lebih pintar pula untuk berkilah dan melanggarnya. Coba ingat
saat kecil dulu, saat kita masih mengerti akan kepatuhan, ketaatan
dan kebaikan.

Saat
itu mungkin kita masih seperti seorang gadis kecil berusia 6 tahun
dalam foto ini. Ia membersihkan piring-piring di meja kafetaria agar
mahasiswa yang tak dapat tempat duduk bisa duduk di sana. Sekaligus,
ia mencuci piring itu.

Photo
copyright Shanghaiist.com

Photo copyright Shanghaiist.com

Tidak,
saat kecil kita tidak menjadi pembantu. Tapi niat kita adalah
membantu orang tua. Dan itulah yang sedang dilakukan oleh gadis kecil
ini. Ia sedang membantu ayahnya yang juga menjadi juru masak di situ.

Bantuannya
mungkin sederhana, namun sangat berharga. Kampus tersebut sudah
merekrut petugas kebersihan yang bahkan kuwalahan saat jam efektif
kantin. Gadis kecil yang tak disebutkan namanya ini, malah
berinisiatif agar bisa meringankan beban ayahnya. Apa yang
dilakukannya membuat beberapa mahasiswa dan pekerja di kantin itu
malah kadang merasa sungkan.

Photo copyright Shanghaiist.com

Dilansir
dari Shanghaiist, pihak kampus sendiri sudah menganjurkan pada
mahasiswanya untuk membersihkan piring sendiri untuk menanamkan
budaya yang baik. Namun peraturan seperti ini ada yang mendukung dan
ada juga yang menolak. Mereka yang mendukung menyatakan setuju bahwa
hal tersebut memang bisa melatih kepekaan dan kepedulian mereka.

Sedangkan
mereka yang merasa peraturan itu kurang tepat, punya alasan bahwa
mereka tak pernah melihat pengunjung restoran yang mencuci piringnya
sendiri. Sehingga menurut mereka, kondisi kantin atau kafetaria yang
mereka miliki di kampus sudah cukup ideal.

Lepas
dari pro dan kontra, kita perlu acungkan jempol untuk gadis kecil
pembersih piring ini. Ia menganut prinsip talk less, do more. Selalu
bisa kita temukan alasan untuk tidak melakukannya. Sedangkan saat
kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita sadar bahwa tak perlu
alasan untuk melakukan kebaikan.

Photo copyright Shanghaiist.com

Sebuah
inisiatif, bukan hanya menolong ayah gadis ini, tapi juga dirinya dan
mahasiswa-mahasiswa yang ingin makan dengan nyaman dan kenyang di
sana. Jangan tutup mata dan telinga kita untuk lebih peduli dan
mengambil inisiatif. Lebih baik menjadi bagian dari solusi daripada
berdebat dan menyulut emosi.  

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.