Fakta Terselubung di Balik Pencapresan Jokowi dan Prabowo

Posted on

Bulan April kemarin, seluruh rakyat Indonesia melaksanakan sebuah pesta demokrasi untuk memilih para anggota legislatif yang akan duduk di kursi pemerintahan. Ya, Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2014 telah dilaksanakan dengan cukup lancar pada tanggal 9 April 2014 yang lalu. Dalam Pemilu yang lalu itu masih banyak sekali kekurangan dan kecurangan yang terjadi, mulai dari amburadulnya Daftar Pemilih Tetap atau DPT, sampai dengan kecurangan dari pihak-pihak yang menghalalkan berbagai macam cara untuk mendulang suara dari rakyat Indonesia. Meskipun demikian, secara umum, Pemilu Legislatif 2014 tersebut berakhir dengan sukses dan lancar.

Adapun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) muncul sebagai partai yang mendapatkan suara terbanyak berdasarkan hasil Real Count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), yaitu 18.95% diikuti oleh Partai Golongan Karya (Golkar) dengan perolehan suara 14.75% kemudian peringkat ketiga adalah Partai Gerakan Indonesia Raya (gerindra) dengan 11.81%. Diluar tiga besar adalah partai-partai seperti Partai Demokrat, PKS, PKB, PPP, Hanura, dan lain-lain.

Koalisi

Dengan komposisi seperti itu, maka para petinggi-petinggi langsung mengambil langkah-langkah strategis untuk menghimpun mitra dan partner koalisi untuk mengusung calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) untuk Pemilihan Umum Presiden yang akan dilakukan pada bulan Juli nanti. Berbagai macam lobi-lobi dan pembicaraan intensif dilakukan diantara petinggi-petinggi partai untuk bisa mendapatkan mitra koalisi yang paling sesuai dengan visi dan misi dari partai maupun harapan dari masyarakat.

Partai-partai peserta pemilu sudah mendeklarasikan masing-masing dari para calon presidennya. Tetapi, berdasarkan berbagai survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey yang ada di Indonesia, persaingan calon presiden akan mengerucut kepada dua tokoh, yang pertama adalah Joko Widodo atau yang lebih sering dikenal dengan nama Jokowi yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Prabowo Subianto yang diusung oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Tim sukses dan para relawan pendukung para calon presiden  tersebut pun sudah mulai merapatkan barisan untuk mendulang suara bagi calon presiden yang didukungnya. Bahkan sudah ada beberapa isu-isu dan berita-berita yang dilemparkan untuk saling melemahkan pesaingnya masing-masing.

Untuk memberikan informasi yang lengkap dan objektif mengenai kedua capres tersebut, yaitu Jokowi dan Prabowo, disini akan diberikan beberapa fakta terselubung mengenai keduanya. 

Pesona Jokowi

Dimulai dengan Jokowi, capres yang satu ini mempunyai nama lengkap Joko Widodo. Saat ini beliau menjabat sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) dan sudah berjalan hampir dua tahun. Jokowi lahir di Surakarta atau Solo pada tanggal 21 Juni 1961. Dengan keuletan dan kegigihannya semasa menuntut ilmu dalam mempelajari sesuatu, akhirnya Jokowi berhasil lulus dari Universitas Gajah Mada Fakultas Kehutanan. 

Sempat bekerja di salah satu BUMN, akhirnya Jokowi memutuskan untuk memulai bisnisnya sendiri di bidang furnitur. Dengan kejujuran dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dan bisa berkeliling Eropa yang membuka matanya. Pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi inspirasinya untuk diterapkan di Surakarta di kemudian hari dan menginspirasinya untuk memasuki dunia politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penghuninya.

Karir politiknya dimulai pada pilkada kota Surakarta pada tahun 2005, Jokowi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk maju sebagai calon wali kota Surakarta. Ia berhasil memenangkan pemilihan tersebut. Setelah terpilih, dengan berbagai macam ilmu dan pengalaman serta pengetahuannya, Jokowi berhasil membawa perubahan di Kota Surakarta. Dan kemudian di Pemilihan Kepala Daerah berikutnya tahun 2010, Jokowi berhasil menang telak dengan jumlah presentase suara mencapai 90% lebih. 

Berbagai macam langkah dan kebijakan dilakukan untuk membawa perubahan di Surakarta. Mulai dari Rebranding Solo, Pembenahan dan Relokasi Pedagang Kaki lima, Pembenahan Transportasi Umum, Pembenahan Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan, sampai dengan Kebijakan mengenai Hari Bebas Kendaraan Bermotor. 

Pada tahun 2012, ia dicalonkan oleh PDI-P sebagai calon Gubernur DKI Jakartayang akhirnya berhasil dimenangkannya. Selama menjabat sebagai gubernur, ia melancarkan berbagai program seperti Kartu Jakarta Sehat, Kartu Jakarta Pintar, lelang jabatan, pembangunan Angkutan Massal Cepat (MRT) dan Monorel, pengembalian fungsi waduk dan sungai, serta penyediaan ruang terbuka hijau.

Jokowi merupakan salah satu pemimpin yang memiliki gaya pragmatis dan membumi. Ia seringkali melakukan “blusukan” atau turun langsung ke lapangan untuk melihat langsung permasalahan yang ada dan mencari solusi yang tepat. “Blusukan” juga dilakukan untuk menemui langsung warga dan mendengar keluh kesah mereka. Selain itu, Jokowi dikenal dengan transparansinya, antara lain diterapkannya dalam bidang gaji bulanan, anggaran, lelang pengadaan alat, hingga pajak dan rapat-rapat yang dilakukan pun bisa diakses oleh masyarakat.

Disamping kelebihan dalam bidang kesejahteraan ekonomi, kesehatan, dan layanan publik yang dimilikinya, ternyata Jokowi juga memiliki beberapa kelemahan. Beberapa kelemahan utamanya adalah bahwa pengalaman Jokowi baru sebatas memimpin daerah dan belum mencakup skala yang lebih besar. Kelemahan berikutnya adalahminimnya pengalaman dalam percaturan internasional. Kurangnya pengalaman dalam bidang pengelolaan konflik dan pertahanan serta keamanan juga menjadi kelemahan yang cukup disorot oleh beberapa pihak.

Ketegasan Prabowo

Capres kandidat berikutnya adalah Prabowo Subianto Djojohadikusumo, atau yang kerap disebut dengan Prabowo. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Umum sekaligus pendiri Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Prabowo yang merupakan salah satu tokoh militer yang kuat dan tokoh politik ini dilahirkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1951. Ketertarikannya pada dunia militer membawanya lulus dari Akademi Militer Magelang pada tahun 1974.

Karir militernya dimulai pada tahun 1976 bersama dengan Tim Nenggala di Timor-Timur untuk mengatasi konflik yang terjadi di sana. Prabowo merupakan komandan termuda saat itu, karena usianya baru 26 taun ketika menjabat sebagai komandan peleton. Perjalanan gemilang dan panjang dari karir militernya juga dihiasi dengan keberhasilannya menangkap dan mengamankan pemimpin gerakan separatis, Xanana Gusmao pada tahun 1992.

Karir gemilang militernya tidak berhenti disitu. Pada tahun 1995, ia sudah mencapai jabatan Komandan Komando Pasukan Khusus, dan hanya dalam setahun sudah menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus. Prabowo, bahkan sempat disebut sbg “The Brightest Star”. Dan dialah jenderal termuda yang meraih tiga bintang pada usia 46 tahun. Berbagai macam penghargaan pernah diterimanya, dari tingkat nasional sampai dengan tingkat internasional, karena prestasi dan pencapaiannya di bidang militer.

Dibawah pimpinannya, pasukan KOSTRAD atau sekarang disebut KOPASSUS tumbuh dan berkembang menjadi satu pasukan khusus yang sangat disegani di mata dunia militer internasional karena kemampuan dan determinasinya.

Dengan bekal pengalaman dan pengetahuannya di bidang militer selama bertahun-tahun, Prabowo merupakan sosok pemimpin yang tegas, dengan segala pengetahuannya akan hubungan internasional dan pengalamannya mengatasi konflik, baik yang berskala lokal maupun nasional. 

Pada tahun 2004 pun Prabowo akhirnya memulai karir politiknya. Meskipun kandas untuk maju sebagai capres dari Partai Golkar, tidak menyurutkan Prabowo untuk merajut sendiri karir politiknya. Bersama dengan kolega terdekatnya, Prabowo mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada bulan Februari 2008. Partai tersebut hingga saat ini merupakan salah satu partai besar yang memiliki banyak pendukung. Hal ini bisa terlihat dari pencapaiannya di Pemilu Legislatif 2014 kemarin. Gerindra berhasil masuk menjadi tiga besar pemenang pemilu dengan suara sebesar hamper 12%. Prabowo pun mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden dari partai tersebut.

Dibalik kesuksesan dan kecemerlangan karir militer dan bisnisnya, Prabowo memiliki kekurangan dan dosa yang masih ditanggungnya. Beberapa operasi penanganan konflik yang terjadi di Indonesia, diindikasikan melanggar hak asasi manusia (HAM). Operasi yang paling banyak mendapat sorotan adalah Operasi Kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada penembakan dan penculikan aktivis yang hingga kini belum diketahui nasibnya. Kekurangan berikutnya adalah kekhawatiran masyarakat akan munculnya kediktatoran ketika dipimpin oleh presiden dari kalangan militer, apalagi Prabowo, yang notabene adalah perwira terbaik dan purnawirawan militer dengan prestasi dan determinasi selangit. Kekurangan itu dinilai banyak analis mampu mereduksi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Prabowo sebagai calon presiden.

Pemimpin Indonesia Ke Masa Depan yang Lebih Baik

Dengan segala kelebihan dan kekurangan dari masing-masing calon presiden terkuat saat ini, Jokowi dan Prabowo, hendaknya bisa masyarakat nilai dengan pikiran dan hati yang terbuka. Siapapun yang akan terpilih nanti sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019, hendaknya mampu mengamalkan dan menjalankan amanat dan amanah yang sudah diberikan oleh rakyat dan memimpin Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.